“Ada appraisalnya,” Doktor Zain menyebut singkat pada Jumat petang, 6 Desember, sekitar pukul 15.17 Wita.
Harga sebenarnya yang disebutkan M. Zain tak diterakan dalam keterangan tertulisnya. Para pihak pun belum bersedia menyebut angka rupiah terkait harga bayar lokasi (calon) ‘Pasar Jokowi’ tersebut.
Soal pembangunan pasar dimaksud kelak, Doktor Zain menerangkan jurus idealismenya:
“Mamasa sudah sangat kumuh dan pertumbuhan ekonomi rendah. Gara-gara tidak ada pasar yang representatif,” jelas Zain dalam keterangannya.
Ia juga menyebut, RSUD Kondosapata, insya Allah sudah menjadi quick win P2P dan pembangunannya tahun 2025.
“Tanggal 9 s.d. 11 Desember (besok), tim survey dari Kementerian Kesehatan (pusat) akan datang,” tambahnya menerangkan.
Harapan Zain sungguh besar: “Pertanda baik untuk Mamasa.”
Kasus pasar baru Mamasa itu berkelindan di tengah gelombang Pilkada Mamasa yang belum usai.
Sesuai Jadwal yang beredar, KPU Mamasa baru akan mengumumkan hasil pleno KPU pekan depan, sekitar tanggal 16 Desember.
Tapi umum diketahui, hitung nyata lebih cepat menunjukkan Paslon Bupati dan Wakil Bupati, Welem Sambolangi – Haji Sudirman (03) memenangi Pilkada Mamasa dengan perolehan suara 39 persen dari jumlah pemilih sah.
Pemenang kedua — menurut data bukan dari KPU Mamasa — Paslon Robinson Paul Tarru – David Bambalayuk (01) runner-up dengan perolehan 31 persen, dan Paslon Ruslan – Hj. Faridha Pachri (02) terakhir, 29 persen.
Semburan bunyi gelombang pilkada barusan belum mereda. Paling tidak bisa dilihat dari perbincangan di media sosial dan media percakapan berjejaring.
Luap-luap para pendukung masih menyeringai setiap alur obrolan. Panas dingin masih terlihat.
Aroma pilkada yang belum usai, tuntutan segera dimulainya pembangunan ‘Pasar Jokowi’ di kota Mamasa mulai menemukan narasinya kembali setelah meredup sekian bulan lamanya.






