MAMASA, Lintas-Enam.com – Kelompok Tani di Desa Saluahok, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, gagal mendapatkan pupuk gratis dari pihak penyalur.
Masalahnya sepele. Pasalnya, salah satu anggotanya disebut tengah berada di luar daerah mencari nafkah.
Kendati telah mengirimkan foto KTP asli lewat pesan singkat, mereka tetap tidak mendapatkan jatah pupuk yang seharusnya menjadi haknya.
Keluhan itu disampaikan Ketua Kelompok di Desa Saluahok, Hasan, yang gagal mendapatkan pupuk gratis.
Hasan mengaku jauh-jauh datang dari pelosok ke pihak penyalur di Keppe, Kecamatan Mambi, hanya untuk mengurus kebutuhan penunjang pertanian, namun diperhadapkan dengan situasi sulit.
Kata Hasan, program pupuk gratis sejatinya meringankan beban petani, namun justru menjadi beban bagi masyarakat.
Padahal berbagai upaya telah Hasan lakukan untuk meyakinkan pihak penyalur bahwa salah satu anggotanya tidak berada di tempat.
Upaya yang dia lakukan hanya sia-sia. Pihak penyalur berkeras tak mempertimbangkan keberadaan anggota kelompoknya.
“Kami dipersulit karena salah satu anggota kami berada di luar daerah, padahal sudah kirim foto aslinya,” ucap Hasan, Kamis (17/9/2026).
Diakui Hasan, pihaknya sudah berupaya menjelaskan dan bahkan menunjukkan hasil scan e-KTP elektronik yang kualitasnya sama dengan aslinya, tetapi pihak penyalur tetap menolak.
“Samaji aslinya karena discan, tapi tetap tidak dilayani, kami dipersulit,” keluhnya.
Sementara di Saluahok ada empat kelompok tani yang sangat membutuhkan pupuk tepat waktu pada musim tanam.
Menurut Hasan, jika dipersulit mendapatkan pupuk gratis, maka petani dirugikan.
Kepala Dinas Pertanian Mamasa, Eva Yuslianti dikonfirmasi via Whatsapp terkait keluhan itu, namun belum merespon.
Hingga berita ini dirilis, belum diperoleh pernyataan dari pihak terkait. (*)






