Empat Bulan Dilanda Kemarau, Warga Keang Mamuju Krisis Air Bersih

Foto: Henok Seorang Warga Mamuju saat menimba air

MAMUJU, Lintas-Enam.com — Kemarau panjang mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Salah satunya di Desa Keang, Kecamatan Kalukku.

Sudah sekitar empat bulan wilayah tersebut dilanda kemarau.

Dampaknya, puluhan sumur milik warga mulai mengering.

Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari memasak, mencuci piring, hingga mandi.

Warga bahkan terpaksa memanfaatkan Sungai Kalukku untuk mencuci pakaian dan mandi.

Setiap sore, sejumlah warga terlihat mendatangi sungai maupun sumur yang masih memiliki persediaan air.

Henok, salah seorang warga Desa Keang, mengaku harus mengambil air setiap sore untuk kebutuhan rumah tangga.

“Untungnya masih ada sumur kakak yang belum kering. Ditimba untuk kebutuhan di rumah, cukup untuk cuci piring dan memasak,” kata Henok saat menimba air, Minggu (20/9/2026).

Baca Juga:  Kronologi Siswi di Mamasa Tenggelam di Sungai Saat Mengikuti Kegiatan Pramuka

Menurutnya, sumur di rumahnya sendiri sudah mengering akibat kemarau yang berlangsung cukup lama.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air lain.

“Kalau untuk mandi, banyak warga ke sungai karena sumur sudah kering,” ujarnya.

Tak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kemarau juga mulai mengancam sektor pertanian dan peternakan warga.

Henok mengatakan kondisi rumput di sejumlah lahan mulai mengering.

Kondisi itu membuat peternak sapi mulai kewalahan menyediakan pakan untuk ternaknya.

“Coba kita lihat rumput di lapangan ini, sudah mulai kering. Peternak sapi juga sudah mulai kewalahan karena hewan mereka ikut terdampak,” tuturnya.

Sementara bagi petani, kemarau menjadi ancaman serius.

Baca Juga:  Di Sudut Kota Kalukku, Satria Bertahan Hidup di Balik Kerangkeng Tanpa Uluran Tangan Pemerintah

Tanaman yang membutuhkan pasokan air terancam gagal panen.

Warga pun hanya bisa berharap hujan segera turun.

“Entah sampai kapan kemarau ini. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda hujan,” kata Henok.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung hingga satu bulan ke depan, warga khawatir aktivitas pertanian semakin lumpuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *