Saat itu, para dokter disebut mendapat janji pembayaran secara bertahap. Pembayaran tersebut disebut menunggu dana pergeseran pada April 2025.
“Waktu itu kami dijanjikan akan dibayarkan secara bertahap, dengan alasan menunggu dana pergeseran bulan April,” katanya.
Namun, hingga waktu yang dijanjikan, persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai.
Pada Mei 2025, para dokter kembali menyampaikan persoalan tersebut kepada media massa. Mereka juga menemui Bupati Mamasa di rumah jabatan pada 18 Mei 2025.
Dalam pertemuan itu, pembayaran yang dilakukan baru mencakup gaji selama dua bulan, yakni gaji Maret dan April 2025.
Sementara tunggakan tahun 2024 disebut akan diproses pada Juni 2025.
“Waktu itu disampaikan bahwa tunggakan 2024 akan diproses bulan Juni. Tetapi sampai kemudian kami masih menunggu,” ujarnya.
Para dokter kemudian melibatkan DPRD Mamasa dalam upaya mencari penyelesaian.
Pada Agustus 2025, mereka menghubungi anggota DPRD Mamasa dari Fraksi Gerindra, Mihos.
Menurut sumber tersebut, Mihos menyatakan akan menindaklanjuti persoalan itu.
Ia juga disebut akan mendorong pemerintah daerah melalui rekomendasi DPRD. Namun, hingga September 2025, belum ada kepastian mengenai pembayaran tunggakan.
Pada Oktober 2025, para dokter kembali menemui anggota DPRD Mamasa dari Fraksi Golkar, Yehisker.
Dalam pertemuan tersebut, mereka mendapat penjelasan mengenai proses penyelesaian tunggakan.
“Pak Yehisker mengatakan masih menunggu hasil audit dari provinsi dan akan tetap memperjuangkan pembayaran tunggakan gaji tahun 2024,” katanya.
Pertemuan terakhir dengan Bupati Mamasa disebut berlangsung pada 26 November 2025. Pertemuan itu berlangsung di rumah jabatan Bupati Mamasa.
Dalam pertemuan tersebut, para dokter kembali diminta bersabar. Pembayaran disebut akan dilakukan secara bertahap.
“Jawaban terakhir kami diminta sabar. Katanya, kalau kondisi sudah normal, akan diselesaikan pelan-pelan,” ungkapnya.






