Lintas-Enam.com, Mamasa – Embun pagi bak lautan di samudera menyelimuti deretan palung yang jauh di dasar laut. Ia ada namun tak terlihat sebab lautan menutupinya.
Tanah masih berbau basah, mata hari di Ufuk Timur muncul tampak ragu-ragu seakan mengintip dari balik pegunungan quarles.
Lautan embun pagi menutupi deretan pegunungan mengelilingi kota Mamasa, bak ombak memecah karang di lautan.
Buntu Kepa’, begitu ia dikenal, sebuah mahakarya sang pencipta di ujung timur Sulawesi Barat, di Desa Taupe, Kecamatan Mamasa,Kabupaten Mamasa tepatnya.
Pagi itu, Kamis (22/2/2024), saat matahari mulai terbit, gumpalan embun pagi membentuk menyelimuti pemandangan indah kota Mamasa.
Pemandangan ini tak lalu sia-sia, ia memberi candu bagi mereke yang menikmatinya. Tak terkecuali DR. Zain, Pj Bupati Mamasa.
Pemandangan di atas ketinggian 1.200 MDPL itu memukau hati orang nomor satu di Mamasa ini.
“Buntu Kepa dengan segala keindahannya, dikenal dengan Negeri di atas awan laksana potongan surga yang tersembunyi,” ucap Zain, tatkala menapak di puncak Buntu Kepa’.
Ekspresi kekaguman atas ciptaan Tuhan tersirat makna baginya. Walaupun Gunung melambangkan kekuatan dan kekokohan namun gunung juga menyimpan makna cinta.
Jalaluddin Rumi pun bersenandung diatas puncak. “Andaikan Gunung tak punya cinta, mustahil tetumbuhan dan pepohonan bisa hidup di sana,” ucap Zain dengan mata terpejam.
Filosofi gunung itu, konon menjadi inspirasi dalam perjuangan hidup DR. Zain.
Di balik sosoknya yang kokoh menghadapi tantangan, teguh pendirian dan tahan banting, siapa sangka dalam relung hatinya ada Cinta.





