Hidup sendiri tanpa pendamping hidup, terpaksa dilakoninya.
Setiap menjelang malam tiba, Limbong mengemasi jualannya di Taman Kota dan bergegas ke Rante-Rante, menjajakan sayur dagangannya di depan toko modern menggunakan gerobak dorong.
Kondisi itu terpaksa dijalani Limbong setiap malam hingga larut, demi bertahan hidup.
Limbong bercerita, sayur yang dia jual didapatkan dari rekannya sesama pedagang.
Ia harus mengeluarkan modal setidaknya Rp50.000, untuk membeli sayur yang ia jual itu kembali.
Sayangnya, keuntungan yang didapatkan Limbong, kadang tak mengembalikan modal itu.
“Susah uang sekarang, tidak ada yang beli sayur,” ucap Limbong dengan nada pelan.
Limbong kadang harus mengelus dada, sebab sayur dagangannya terpaksa jadi santapan hewan peliharaan tetangga jika tak laku terjual.
“Kalau tidak laku, terpaksa dikasih babinya tetangga,” ujar Limbong.
Meski begitu, Limbong tak putus asa. Ketimbang menyusahkan orang lain, ia lebih memilih menekuni usahanya itu.
Limbong tak menampik, dari pemerintah melalui Desa Rantepuang, ia mendapat bantuan langsung tunai (BLT), namun bantuan dirasa tak cukup untuk bertahan hidup.
“Ada bantuan tapu tidak cukup untuk biaya hidup,” katanya.
Limbong berharap usahanya mendapat perhatian dari pemerintah, untuk sekedar menyambung hidup. (*)






