Ekobis  

Demi Bertahan Hidup, Limbong Jualan Sayur Hingga Larut Malam Tak Kenal Lelah

Gambar: Limbong Manambo, pedagang sayur di depan toko retail di depan Kantor DPRD Mamasa

MAMASA, Lintas-Enam.com – Deru mesin dan knalpot bising memecah keheningan malam di ujung kota Kabupaten Mamasa, Rante-Rante tepatnya.

Lolongan anjing, menambah kebisingan malam berselimut embun. Hembusan angin terasa dingin seakan menusuk sus-sum. Malam itu, Senin (9/8/2026).

Di depan sebuah toko retail, tampak sosok wanita tua berpakaian lusuh, dengan jaket berwarna abu-abu dipasangkan celana puntung berwarna hijau tua.

Di balik lengan kanannya, terselip tas kulit berwarna hitam.

Nenek tua itu duduk di tangga deretan ketiga. Kedua tangannya menggenggam lutut, kepalanya dibungkus topi berdaun lebar.

Di depan wanita tua dengan wajah berkerut itu, tampak sebuah gerobak dorong berisi tumpukan sayur dan buah-buahan. Di sampingnya ada rak berisi telur itik.

Tatapan kosong tertuju ke sebuah gedung di seberang jalan. Gedung itu tempat para wakil rakyat berkumpul, tak lebih dari sekedar membahas jatah.

Baca Juga:  Utang Pemda Mamasa Tembus Rp138 Miliar, Wabup: Bukan Utang Welem-Sudirman, Tapi Wajib Dibayar

Sesekali derap langkah pengunjung toko seperti hentakan kaki prajurit perang, memalingkan pandangan wanita tua itu.

Sesekali pula ia mengangkat seikat sayur kepada pengunjung yang datang. Sebuah asa bercampur cemas tak bisa ia tutupi, berharap sayur itu terbeli. Namun tak ada yang meresponnya.

“Sayur, sayur, beli ki sayur,” ucap wanita tua itu menjajakan dagangannya kepada pengunjung.

Wanita tua itu bernama Limbong Manambo berusia 70 tahun. Ia berdomisili di Randanan, Desa Buntubuda, Kecamatan Mamasa.

Sebenarnya, Limbong terdata sebagai warga Talodo, Desa Rantepuang, Kecamatan Sesenapadang.

Tetapi untuk menjalani usaha ini, ia terpaksa berdomisili di Randanan, di rumah kerabatnya yang ia beli bertahun-tahun yang lalu.

Baca Juga:  Bupati Mamasa Akui Panggil Kepala OPD di Rujab Secara Bergantian: Sinkronisasi RKA dan RPJMD

Karena usianya yang rentan dan suaminya sudah meninggal puluhan tahun lalu, ia memilih nginap di lapaknya di pasar tradisional di Taman Kota Mamasa.

Diakui Limbong, sebenarnya ia punyai anak perempuan di kampung, namun sudah bersuami dan punya banyak anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *