Demi Bertahan Hidup, Limbong Jualan Sayur Hingga Larut Malam Tak Kenal Lelah

Gambar: Limbong Manambo, pedagang sayur di depan toko retail di depan Kantor DPRD Mamasa

Hidup sendiri tanpa suami, terpaksa dilakoninya.

Setiap menjelang malam, Limbong mengemasi jualannya di Taman Kota dan bergegas ke Rante-Rante, menjajakan sayur dagangannya di depan toko modern menggunakan gerobak dorong.

Kondisi itu terpaksa dijalani Limbong setiap malam hingga larut, demi bertahan hidup.

Limbong bercerita, sayur yang dia jual didapatkan dari rekannya sesama pedagang.

Ia harus mengeluarkan modal setidaknya Rp50.000, untuk membeli sayur yang ia jual.

Baca Juga:  2.023 Anak dan Kelompok Rentan di Messawa Terima MBG

Sayangnya, keuntungan yang didapatkan Limbong, kadang tak mengembalikan modalnya.

“Susah uang sekarang, tidak ada yang beli sayur,” ucap Limbong dengan nada pelan.

Limbong kadang harus mengelus dada, sebab sayur dagangannya terpaksa jadi santapan hewan peliharaan tetangga, jika tak laku terjual.

“Kalau tidak laku, terpaksa dikasih babinya tetangga,” ujar Limbong.

Meski begitu, Limbong tak putus asa. Ketimbang menyusahkan orang lain, ia lebih memilih menekuni usahanya itu.

Baca Juga:  Dari Sulit Cari Kerja, Kristin Kini Jadi Pembawa Harapan bagi Perempuan Prasejahtera di Mamasa

Limbong tak menampik, dari pemerintah melalui Desa Rantepuang, ia mendapat bantuan langsung tunai (BLT), namun bantuan dirasa tak cukup untuk bertahan hidup.

“Ada bantuan tapi tidak cukup untuk biaya hidup,” katanya.

Limbong berharap, usahanya mendapat perhatian dari pemerintah, sekadar menyambung hidup. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *