“Bahwa satu nyawa tidak boleh dibiarkan. Apalagi ini dua nyawa yang melayang, harus dituntaskan, karena ini adalah hak asasi dan juga hak keluarga,” tegasnya.
Taufik, juga salah satu keluarga korban mengatakan bahwa mereka membutuhkan pengacara yang berasal dari luar Mamasa.
“Tidak baik membicarakan orang lain, tapi harus orang luar. Orang Batak pengacara ta’ baru bisa beres. Kalau kita-kita ji, tidak akan beres. Tapi itu harus ada bantuan dari Bupati,” kata mantan anggota DPRD Mamasa Dapil III itu.
Hingga kini, kebuntuan tragedi tersebut, membuat masyarakat menerka-nerka motif yang paling mungkin.
Berbagai konspirasi yang melibatkan para elit pun jadi buah bibir.
Mulai dari pengacara yang menangani kasus tersebut saat itu, hingga banyak petinggi-petinggi lain, tak ketinggalan jadi pembicaraan.
Flashback Tragedi Berdarah di Aralle 2 Tahun Silam
Kisah tragis dialami pasangan suami istri di Kecamatan Aralle, pada 2 tahun silam, tepatnya Minggu, (7/8/2022).
Seorang Kepala Sekolah bernama Porepadang (54) dan istrinya, Sabriani (50), jadi korban keberingasan oleh orang yang hingga kini tak diketahui identitasnya.
Korban ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan sejumlah luka pada bagian kepala.
Korban pertama kali ditemukan anaknya bernama Amanda (20) kala itu, sekitar pukul 07.00 Wita pagi.
Dari keterangan Polisi, sekitar pukul 07.00 Wita, Amanda, bangun dari tidurnya karena mendengar suara adiknya bernama Marvel (14).
Amanda mendengar Marvel mengalami sesak dan merintih kesakitan.
Amanda mendatangi kamar belakang, dan mendapati kedua orang tuanya sudah dalam keadaan bersimbah darah.
Sementara adiknya Marvel berada diantara kedua orang tuanya.
Karena kritis, Marvel dirujuk ke RS Bhayangkara di Kabupaten Mamuju, beberapa saat setelah ditemukan.
Ironisnya, lebih dari dua tahun, kasus itu tak kunjung terungkap, meski telah puluhan orang terperiksa.(*)
