Berita  

Miris! SMP Negeri di Buntumalangka Mamasa Bak Kandang Ayam

Foto: Bangunan SPMN 006 Buntumalangka tampak seperti kandang ayam

Lintas-Enam.com, Mamasa – Potret minimnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan masih saja terjadi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Bagaimana tidak, di kabupaten yang terbentuk sejak 22 tahun lalu ini, masih saja ada sekolah yang berdiri laiknya sebuah kandang ayam.

Pemandangan memprihatinkan ini berada di Desa Aralle Timur, Kecamatan Buntumalangka, yakni SMPN 6 Buntumalangka.

Sekolah milik pemerintah ini, nampak seperti kandang ternak yang terbuat dari anyaman bambu.

Ironisnya, bangunan sekira 9×4 Meter itu, harus dibagi menjadi 3 kelas.

Pendiriannya merupakan swadaya dari masyarakat dan Pemerintah Desa.

Bangunan yang berdiri di pinggir sawah dan berdempetan dengan gedung Bumdes itu, hanya berlantaikan tanah.

Tak heran, saat dikunjungi, lantainya dalam kondisi lembab.

Kelas-kelas hanya terisi dengan papan tulis yang nyaris tak dapat lagi digunakan. Bangku dan meja, pun seadanya.

Baca Juga:  Bahas Urgensi Kota Otonom di Sulbar, Sulfakri Sultan Gelar Hearing Dialog

Spanduk sebagai papan nama sekolah ini juga sudah sobek dan hampir tak terbaca.

Kala hujan turun, meja dan kursi akan ikut basah, sebab air dari luar gedung merembes ke dalam hingga menggenangi lantai tanah.

Total ada 29 murid yang bersekolah di sekolah itu. Terdiri dari 10 pelajar kelas VII, 5 pelajar kelas VIII, dan 14 kelas IX.

Sedangkan, tenaga pendidik terdapat 15 tenaga honorer.

Arman (29), salah satu guru yang bekerja di sekolah itu mengatakan, SMP tersebut telah berdiri sejak 2016 sebagai sekolah jarak jauh dari SMP Negeri 2 Buntumalangka, yang kemudian berdiri sendiri pada 2020.

Menurutnya, keberadaan sekolah ini penting, karena banyak anak yang terancam putus sekolah, sebab jaraknya dari SMPN 2 Buntumalangka sekitar 4 km dengan medan jalan yang rusak.

Baca Juga:  Aktivis Desak Pemda Mamasa Bereskan Utang: Jangan Berlindung di Balik Dalih Warisan Pemerintahan Lama

“Kalau tidak dirikan sekolah banyak yang putus sekolah. Jalan ke sekolah induk itu medannya rusak. Kalau jalan kaki bisa setengah jam,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (6/10/2024).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *