LUWU UTARA, Lintas-Enam.com – Matahari baru saja merekah. Tanah masih berbau basah. Hembusan angin dan asap kendaraan menyatu seakan menyapa, pagi itu, Jumat (30/10/2026).
Suasana Jalan Trans Sulawesi, di Desa Dandang, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, tampak ramai. Deru mesin mobil dan sepeda motor terdengar bersahutan.
Hari masih pagi, masyarakat di desa itu sudah mulai beraktivitas seperti pagi-pagi sebelumnya.
Di tepi jalan di depan sebuah mini market, seorang wanita berpakaian compang-camping berdiri menatap ke arah setiap kendaraan yang melintas.
Rambutnya sebahu. Wanita itu berbaju kaos oblong berwarna abu-abu kecokelatan dipasangkan rok pendek berwarna cokelat. Di lengan kirinya terselip kresek berwarna merah, diselempang seperti tas.
Di desa itu, tak ada yang mengenal siapa gerangan sosok wanita yang setiap hari berdiri di tepi jalan sejak sepekan terakhir.
Namun, kehadirannya menjadi perhatian. Bukan karena penampilannya. Warga sekitar prihatin dan mengkhawatirkan keselamatannya.
Seorang warga bernama Nandita, menyaksikan bahwa perempuan dengan penampilan compang-camping itu, sudah seminggu berada di sekitar lokasi itu.
“Sudah sekitar satu mingguan di situ, Pak, depan Alfamart Dandang,” ungkap Nandita.
Kata Nandita, saat pertama kali bertemu, perempuan itu masih dapat diajak berkomunikasi dengan baik. Ketika ditanya mengenai tujuannya, ia mengaku hendak ke Toraja.
“Waktu awal-awal datang, saya tanya mau ke mana, Bu? Dia jawab mau ke Toraja. Sampai terminal saja. Katanya, nanti saya taumi jalan pulang,” ujar Nandita menirukan ucapan wanita itu.
Namun, kata Nandita, komunikasi perempuan tersebut kini berbeda dibandingkan saat pertama kali tiba. Ia mengaku mulai sulit mengajak wanita itu berkomunikasi.
Nandita juga menceritakan, sehari sebelumnya, perempuan tersebut nyaris tertabrak sebuah truk, lantaran berdiri di jalan sambil menunggu kendaraan yang bersedia mengantarnya.





