Di tengah hutan lebat itu, Jhiwar dan Tufiq berjuang melawan maut dengan berbekal 3 bungkus mie instan dan setengah genggam beras.
Padahal sebelum berpisah, persediaan beras masih berkisar 3 Liter. Jumlah itu masih cukup dimakan beberapa hari dengan jumlah delapan orang.
“Mie instan 3 bungkus itu saya tidak makan, saya kasih bapak yang sakit (Taufiq). Jadi setiap jam makan saya siramkan 1 bungkus,” ucap Jhiwar lagi.
Untuk bertahan hidup di Pos 5 selama tiga malam, sejak Jumat, 11 Oktober hingga Senin 14 Oktober, Jhiwar hanya makan dari tumbuh-tumbuhan.
Saat malam di waktu Taufiq tertidur, Jhiwar menyempatkan diri berburu ikan di sungai.
“Jadi salama dua hari itu bapak (Taufiq) makan mie. Saya makan kepiting dengan sidat, sama tumbuhan yang bisa dimakan,” tukasnya.
Meski dalam kegelapan di tengah hutan, Jhiwar mengaku tak pernah merasa takut sedikit pun.
Tak pernah terlintas pula dia akan meninggalkan Taufiq, di tengah kondisi yang memprihatinkan, meski Taufiq menyuruhnya untuk pulang lebih dulu.
“Bapak ini sudah pasrah, tapi saya selalu hibur, saya kuatkan. Saya bilang sabar pak, saya tidak akan tinggalkan bapak sampai tim penyelamat tiba,” ucap Jhiwar.
Hingga pada Senin 14 Oktober sekira Pukul 14.00 Wita, tim evakuasi berjumlah dua orang tiba di Pos 5.
Setelah melalui proses evakuasi, Jhiwar dan Taufiq akhirnya selamat tiba di Posko Utama pada Selasa, 15 Oktober 2024.(*)
