Di lembah V itulah menurut jhiwar, Taufiq Abubakar mulai merasakan penyakit ambeyen yang ia derita.

“Di lembah V ini setelah dari puncak, Pak Taufiq bilang kalau dia mulai merasakan penyakitnya. Tetapi temannya ngotot harus lanjut karena masih ada agenda mendaki di Bone. Saya sarankan untuk istirahat satu hari tetapi teman Pak Taufiq tidak mau, akhirnya dia ikut saja,” terang Jhiwar.
Setelah beristirahat beberapa jam, perjalanan pulang dilanjutkan hingga tiba di Pos 6.
Tetapi karena kondisi Taufiq kian memburuk, perjalanan ke Pos 6 pun membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga ia tiba sekitar Pukul 19.00 Wita.
Namun enam rekannya telah lebih dulu tiba, sekira Pukul 16.00 Wita, di hari Kamis itu.
Setiba di Pos 6, tim ini mengatur rencana soal perjalanan selanjutnya.
Disepakati bahwa yang tinggal di Pos 6 menemani Taufiq beristirahat, adalah Jhiwar.
Enam rekannya meneruskan perjalanan ke Pos 5 di malam itu juga, setelah makan malam.
“Kami sepakati saya tinggal di Pos 6 temani Pak Taufik,” kata Jhiwar.
Sementara empat rekannya disepakati akan menunggu di Pos 5, dua lainnya yakni Calvin dan Aris Bongga Langi meneruskan perjalanan ke Kota Mamasa, melaporkan kejadian yang ia alami, kepada BPBD Mamasa.
Keesokan paginya di hari Jumat, 11 Oktober, Sekira Pukul 6.00 Wita setelah sarapan, Jhiwar dan Taufiq melanjutkan perjalanan ke Pos 5.
Di tengah kondisi fisik yang kian drop, Taufiq ditemani Jhiwar, memaksakan diri sampai di Pos 5 dengan harapan rekannya telah menunggu.
Namun, sekira Pukul 20.00 Wita, setiba di Pos 5, betapa kecewanya Jhiwar dan Tufiq, lantaran di Pos itu tidak ada satupun rekannya yang menunggu.
“Pak Taufiq sempat menangis, dia kecewa. Dia bilang kenapa temanku tega tinggalkan saya,” ujarnya.
Lebih kecewanya lagi, Jhiwar dan Taufiq hanya mendapati setengah genggam beras yang ditinggalkan rekannya.
