MAMASA, Lintas-Enam.com — Di balik megahnya rumah jabatan Wakil Bupati Mamasa, berdiri sebuah rumah kayu tua yang nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal.
Dindingnya terbuat dari papan dan seng bekas, lantainya mulai rapuh, dan atapnya juga dari seng bekas yang menyisakan banyak celah bagi air hujan.
Di rumah sederhana itulah Hanna (70), seorang janda lanjut usia (Lansi), menghabiskan hari-harinya seorang diri, setelah suaminya meninggal dunia pada tahun 2024 lalu.
Hanna merupakan warga Desa Rante Tangnga, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Ia adalah salah satu warga terdampak bencana tanah bergerak yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2022 silam.
Bencana itu bukan hanya merusak rumahnya, tetapi juga mengubah kehidupannya.
Bangunan yang dulunya menjadi tempat berlindung kini mengalami kerusakan berat.
Meski demikian, Hanna tetap bertahan karena tak memiliki pilihan lain.
Beruntung, untuk bertahan hidup Hanna mengandalkan berjualan campuran dengan modal yang didapatkan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hanna mengaku tak sekalipun ia mendapat bantuan dari pemerintah kecuali jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan.
“Saya bersyukur karena dapat pinjaman KUR untuk jualan walaupun untungnya tidak seberapa,” ujar Hanna, ditemui Senin (3/8/2026).
Ironisnya, rumah yang nyaris roboh itu berada tepat di depan rumah jabatan Wakil Bupati Mamasa.
Setiap hari, kondisi rumah Hanna menjadi pemandangan yang mudah terlihat oleh siapa saja yang melintas.
Namun hingga kini, belum ada perubahan berarti yang mampu mengangkat beban hidup perempuan lansia tersebut.






