Mereka tidak sekadar mendengar penjelasan tentang tenun, tetapi melihat secara langsung bagaimana sebuah pengetahuan tradisional diwariskan dan dipraktikkan.
Tidak berhenti pada proses menenun.
Sekolah Alam Pangngukiq juga memperagakan proses finishing pembuatan alat tenun dengan cara menghaluskan permukaan kayu menggunakan daun bambu.
Penggunaan daun bambu tersebut bukan sekadar teknik sederhana.
Indra menyebutnya sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang perlahan mulai dilupakan.
“Kenapa daun bambu? Karena itu juga salah satu pengetahuan lokal yang sudah mulai dilupakan,” ujarnya.
Suasana semakin menarik ketika para peserta diajak mengenal warna alam.
Mereka diperkenalkan pada bahan pewarna yang berasal dari alam dan digunakan untuk kegiatan menggambar.
Peserta kemudian diberi kebebasan menuangkan imajinasi masing-masing melalui gambar.
Namun, ada satu syarat. Setiap peserta harus mampu menjelaskan makna dari gambar yang dibuatnya.
Pengalaman itu menjadi sesuatu yang berbeda bagi sebagian peserta yang selama ini lebih terbiasa menggunakan bahan pewarna kimia.
Dengan bahan pewarna alami, mereka diajak melihat bahwa alam di sekitar juga dapat menjadi sumber pengetahuan dan kreativitas.
Indra mengatakan keterlibatan Sekolah Alam Pangngukiq dalam Festival Literasi 2026 menjadi pengalaman penting.
Terlebih, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional yang sempat ditinggalkan masih dapat dihidupkan kembali melalui generasi muda.
“Saya sangat senang dapat berpartisipasi di Festival Literasi tahun ini dengan mengusung tema yang berbeda,” katanya.
Ia mengaku kekhawatirannya terhadap hilangnya pengetahuan tradisional Mamasa perlahan mulai terjawab.
Salah satunya melalui praktik pewarnaan alami yang kembali diperkenalkan kepada anak-anak.
“Pengetahuan warna alam ini sudah ditinggalkan sekitar 50 tahun lamanya. Syukur, hari ini sudah bisa kita kembalikan dan dipraktikkan langsung oleh adik-adik dari sekolah lain,” ujar Indra.
