Di sisi kanannya tempak seorang anak dan warga lainnya tersenyum lepas menyaksikan kedekatan sosok pemimpin dengan warganya itu.
Di persimpangan jalan tak jauh dari tempat Zain menyapa warga, tampak dua lelaki beri isyarat, ia seperti memanggil-manggil.
Tak menunggu waktu lama, Zain pun menghampiri kedua lelaki tua itu. Pampangdika dan Demmanosu namanya.
Seperti tak asing, Zain dan kedua kakek itu lalu bercerita laiknya sahabat karib yang sekian lama tak jumpa.
Bahagianya terejawantahkan dalam lantunan lagu perjuangan yang ia persembahkan untuk Pj Bupati.
Suara parau mencipta suasana kenduri cinta di tengah lengannya jalan desa.
Hadiah sarung pun ia dapatkan “Semoga bermanfaat,” singkat Pj Bupati sembari memeluk mereka.
“Bersyukur, Bupati sudi bercengkrama dengan kami. Kami merindukan pemimpin yang dekat dengan warga, semoga panjang umur,” pintanya ke sang khalik.
Katanya sudah lama tidak berjumpa dengan pemimpinnya, kerinduan itu meluap di derap-derap pedalaman Mamasa.
Pampang Lotong Kepala Desa Balla Tumuka’ dan aparatnya menyambut dengan sederhana namun hangat.
“Terimakasih Pak, Honor kami sudah terbayarkan, ada 373 KK dengan jumlah 1.449 jiwa merindukan pemimpin seperti bapak” ujarnya sembari meneguk segelas kopi.
Kunjungan Zain tak disia-siakannya, ia meminta jalan ke Balla Tumuka diperbaiki.
Balla Tumuka’ adalah Desa Wisata yang terabaikan, objek wisata Buntu Mussa dikenal secara nasional dikunjungi para wisatawan lokal dan mancanegara.
Pemandangan indah kota mamasa dari atas puncak Balla Tumuka, pemandangan objek wisata negeri di atas awan Buntu Liarra dan lebih sari 200 rumah khas Mamasa bisa dijumpai di desa ini.
Satu per satu warga menyalami Pemimpinnya sebelum beranjak, mengisahkan persahabatan, persaudaraan, dan kekeluargaan terajut benang kasih.
Nyanyian perjuangan Pampangdika terlantun di detik-detik perpisahan, “Lagu ini terakhir, syaratnya semoga bapak ingin jadi Bupati selanjutnya,”






