MAMASA, Lintas-Enam.com — Puluhan kepala desa (Kades) di Kabupaten Mamasa mengaku resah dengan pemberitaan oknum wartawan yang dinilai kerap menyudutkan pemerintah desa.
Mereka mempertanyakan profesionalitas pemberitaan yang disebut tidak mengedepankan konfirmasi, narasumber berkompeten, serta prinsip keberimbangan.
Sejumlah Kades menilai, pemberitaan yang dibuat oknum wartawan yang identitasnya tak disebutkan itu, cenderung memasukkan opini pribadi dan menyajikan informasi yang dianggap merugikan pihak desa.
Mereka juga menilai, ruang bagi kepala desa untuk memberikan klarifikasi belum diberikan secara memadai.
Salah seorang Kades berinisial JZ, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku sempat menerima pesan WhatsApp dari oknum wartawan yang hendak melakukan wawancara.
JZ mengatakan, dirinya telah merespons pesan tersebut dan menyatakan kesediaan memberikan informasi.
Namun, sebelum wawancara dilakukan, dirinya justru mendapati berita mengenai dirinya telah diterbitkan.
“Saya diberitakan tanpa konfirmasi. Setahu saya wartawan dalam menulis berita harus ada wawancara dulu dengan narasumber, tapi dia tidak ada wawancara, langsung kirim berita. Isinya juga menyudutkan saya,” ujar JZ, Senin (24/8/2026).
Keluhan serupa disampaikan Kades lainnya, berinisial PTS.
Ia mengaku pernah dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait salah satu program di desanya.
PTS mengatakan telah memberikan penjelasan mengenai program tersebut.
Namun, dalam pemberitaan yang kemudian muncul, menurut PTS, penjelasannya hanya dikutip sebagian.
Sementara itu, ia menilai lebih banyak narasi yang merupakan opini pribadi wartawan.
“Setahu saya wartawan itu melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi, kemudian diolah menjadi sebuah karya jurnalistik. Kalau wartawan tidak yakin dengan penjelasan narasumber, tentu bisa mencari narasumber pembanding yang berkompeten sehingga informasi yang disajikan berimbang,” katanya.
