Ketua Harian Sinergi Muda Mamasa (SMM), Ryan Mewa’, sebelumnya meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi pola pelayanan MBG di daerah terpencil.
Ia mendorong agar dapur MBG atau SPPG di wilayah 3T dapat lebih dekat dengan sekolah dan desa penerima manfaat.
Menurutnya, pola pelayanan yang terlalu terpusat berpotensi menimbulkan persoalan apabila jarak distribusi jauh dan waktu tempuh panjang.
Di sisi lain, penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan penelusuran oleh pihak berwenang.
Tidak dapat disimpulkan bahwa makanan MBG merupakan penyebab tunggal sebelum hasil pemeriksaan resmi tersedia.
Karena itu, penjelasan dari SPPG Tabulahan, BGN, pemerintah daerah, serta instansi terkait menjadi penting untuk memberikan kepastian kepada siswa, orang tua, sekolah dan masyarakat.
Publik kini menunggu satu hal, apa yang sebenarnya terjadi pada makanan MBG yang dikonsumsi para siswa di Tabulahan?
Namun, usai ramai jadi sorotan pasca puluhan siswa di Tabulahan diduga keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG), kini Kepala SPPG Tabulahan tak ada kabar.
Dikonfirmasi via Whatsapp sejak Rabu (30/1/2026) Pukul 19:48 hingga Kamis (1/10/2026) dini hari, Kepala SPPG tak merespon.
Hingga berita ini dirilis, Kepala SPPG Tabulahan belum memberikan tanggapan.






