MAMASA, Lintas-Enam.com – Penanganan stunting di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, masih menjadi persoalan yang mesti mendapat perhatian serius.
Saat ini, Kabupaten Mamasa berada di urutan kedua tertinggi setelah Kabupaten Majene.
Data yang dirilis Dinas Kesehatan Sulbar periode Juli 2026, Kabupaten Majene di angka 32,2 persen, disusul Mamasa yang berada di angka 29,77.
Angka ini jauh di bawah target nasional yang mempersyaratkan 17,5 persen.
Angka yang masih terbilang tinggi itu, pun menjadi sorotan Ketua GEMA PUS, Pitri Nurwita.
Pitri mengatakan, peran Pemda seharusnya lebih jelas, terutama dinas terkait.
Ia mempertanyakan sejauh mana intervensi nyata yang telah dilakukan Pemda menekan laju stunting di Mamasa.
“Pemda juga harusnya lebih memperbanyak sosialisasi dan edukasi khususnya kepada orang tua anak, supaya orang tua anak itu bisa mendapat pencerahan,” kata Pitri Nurwita, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, yang perlu diketahui adalah sejauh mana Pemda melakukan intervensi melalui anggaran daerah.
Kata dia, jangan sampai upaya penurunan stunting hanya berupa imbauan tanpa dukungan anggaran yang jelas, sehingga penurunannya tidak signifikan.
“Kalau orang tua paham mau menerima dan dilibatkan, maka angka stunting itu ya mungkin bisa kita tekan secara perlahan,” ujarnya.
Aktivis perempuan itu juga mempertanyakan pengalokasian anggaran khusus untuk penurunan stunting di Kabupaten Mamasa.
Tanpa intervensi anggaran yang memadai, menurutnya, upaya penurunan tidak akan berefek.
Mengenai upaya Pemda Mamasa mengintervensi kasus stunting, Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman sebagai selaku ketua Satgas dikonfirmasi, namun ia memilih tak merespon. (*)
