Obat Habis, Warga Mamasa “Tak Boleh” Hipertensi
Lintas-Enam.com, Mamasa – Di tengah pemerintah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), tengah berupaya membayar tunggakan BPJS Kesehatan, kini muncul persoalan baru.
Di satu sisi, warga khusus pengguna BPJS senang karena kartunya sudah aktif. Namun, di waktu yang sama diperhadapkan dengan ketersediaan obat-obatan di Puskesmas.
Pasalnya, sudah hampir enam bulan ketersediaan obat-obatan di sejumlah Puskesmas di Mamasa terbatas, bahkan habis.
Sumber laman ini yang tak ingin disebut identitasnya menyebutkan, sejak Januari 2025, ketersedian obat di sejumlah Puskesmas sangat kurang, bahkan ada beberapa jenis yang habis seperti Amlodhipin dan Simvastatin.
Sementara menurut dia, Amlodhipin dan Simvastatin sangat dibutuhkan, khusunya bagi penderita hipertensi.
“Obat itu seharunya tidak boleh kosong karena sangat dibutuhkan penderita hipertensi seumur hidupnya,” kata Sumber yang dianggap berkompeten itu, Selasa (1/7/2025).
Bukan hanya itu, ketersediaan cairan infus juga di sejumlah Puskesmas kata dia, sangat terbatas.
Kekurangan obat ini dibenarkan Kepala Puskesmas Mamasa, Maryam.
Kepada Lintas-Enam.com, Maryam mengatakan, pihaknya harus jujur mengakui bahwa persoapan obat di Mamasa sedang tidak baik-baik saja.
“Kalau boleh jujur, ketersediaan obat di Mamasa sekarang sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya.
Maryam membenarkan bahwa Mamasa kekurangan obat, khususnya obat hipertensi dan juga cairan infus.
“Betul Pak, kita kekurangan obat hipertensi dan cairan infus,” katanya membenarkan.
