“Karena di balik setiap tradisi dan adat istiadat, tersimpan cerita tentang kehidupan, keimanan, penjagaan alam dari para leluhur kita. Tanah Kalumpang ini menyimpan jejak peradaban dari para pendahulu, menjadi tugas kita bersama untuk merawat dan melestarikannya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda, bukan sekadar melalui cerita atau dokumentasi, tetapi dengan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Gibran secara khusus menyinggung kain tenun Sekomandi dan bahasa Kalumpang sebagai identitas budaya yang harus terus dipertahankan.
“Jangan sampai anak-anak muda mengenal kain Sekomandi hanya dari foto, tanpa pernah memiliki kebanggaan menggunakannya. Mengetahui bahasa Kalumpang hanya dari catatan, tanpa pernah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Selain budaya, Wapres turut menekankan pentingnya menjaga persatuan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Ia berharap kerukunan antarumat beragama di Tanah Kalumpang terus dipelihara melalui sikap saling menghormati, membantu, dan menguatkan.
“Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling curiga. Justru di tengah perbedaan itu kedewasaan kita diuji,” ungkapnya.
Gibran juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh kabar bohong maupun ujaran kebencian yang berpotensi merusak persaudaraan.
“Jangan biarkan satu kabar bohong atau satu ujaran kebencian meretakkan rumah persaudaraan yang telah dibangun oleh para leluhur kita,” pesannya.
Pada kesempatan itu, Gibran mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan satu abad IMTK sebagai titik awal untuk memperkuat keimanan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian Monumen 1 Abad Injil Masuk Tanah Kalumpang oleh Wapres.