Menurutnya, membangun Mamasa mesti dengan digital leadership, sebab membangun Mamasa seperti menahkodai kapal besar.
“Jika tidak mampu membantu nahkoda untuk memperbaiki, paling tidak jangan ikut merusak dan melubangi kapal,” imbuhnya.
Lebih jauh Zain mengatakan, sebagai upaya mendukung gerakan Mamasa ber-literasi, maka seluruh tempat diupayakan tersedia perpustakaan mini.
Bukan sekedar meningkatkan minat baca, paling tidak tumbuh kesadaran belajar.
“Saya bertemu dengan anak kecil sementara menjual buah, saat ditanya cita-cita, dia menjawab pilot, namun satu kosa kata bahasa inggris pun tidak tahu, semangat dan harapan ada, akses pengetahuan tidak tersedia. Itulah mengapa saya sering menemui siswa-siswa untuk membangun Hope, bahwa Imajinasi lebih penting dari pengetahuan,” tukas Zain.
Zain berpendapat, kekhawatiran masa depan juga adalah ketika generasi Mamasa sudah tidak terkoneksi dengan leluhurnya.
Sebab ada begitu banyak pesan leluhur yang bisa menjadi prinsip menantang kehidupan. Kehilangan satu kata leluhur, artinya kehilangan nilai (value).
Siswa-siswa di sekolah bisa mengucapkan kata-kata leluhur, agar tercipta generasi yang bangga ada darah Mamasa juga mengalir nilai luhur Mamasa dalam dirinya.
Seperti China belajar kapitalis dari barat, namun values tetap terjaga, akhirnya China mampu membunuh pasar kapitalis secara pelan-pelan.
“Pada akhirnya, Saya akan tinggalkan Mamasa dalam keadaan Tersenyum,” tutup Zain.
Sementara itu, Pengurus Pusat GMKI Korwil Sulselbar, Restu Tangaka mengungkapkan kekaguman atas analisis Pj Bupati yang cemerlang.
“Baru kali ini saya menemukan ada pejabat daerah yang secerdas ini, kita mesti bersyukur atas kehadiran beliau di Mamasa,” ungkap Restu memulai materinya.
“Kepada teman-teman pemuda dan Mahasiswa, saya harap tidak hanya menunggu realisasi ide dan gagasan dari Pj Bupati Mamasa dalam membangun Mamasa, kita juga mesti berinisiatif, berbuat untuk mendukung penuh program yang sudah dijelaskan tadi” sambung Restu.

