Asriaty yang sedari kecil gemar menggambar dan melukis ini, menceritakan awal mula terjun di dunia batik.
Ia mengaku kiprahnya dalam kerajinan batik, dijalani secara otodidak.
Berawal dari pertemuannya dengan para pembatik yang tinggal di rumah-rumah sederhana di pinggiran kota pulau Jawa.
Saat itu pandemi Covid-19 sedang melanda, menyebabkan para pembatik terpaksa dirumahkan.
Akibat kondisi itu, hasil karya pembatik hanya dipajang di pohon pekarangan rumah karena tidak memiliki toko.
Asriaty resah melihat itu. Keresahannya menuntunnya membangun brand Batik AQF di kediamannya di Jalan Legoso Permai, Kecamatan Ciputat, Kota Tanggerang Selatan, Banten, hingga akhirnya berpindah ke Polewali Mandar.
Saat ini, Asriaty mengaku terus mengembangkan wawasannya terkait batik, bukan hanya batik lokal, namun juga batik mancanegara.
“Saya terus mengasah dan mengupgrade kreativitas dalam dunia batik, terus belajar dengan membaca berbagai literatur batik,” tutur pegiat batik yang juga pencinta sastra puisi dan cerpen itu.
“Batik khas nusantara, batik Malaysia, batik Singapura, batik China, dan sebagainya,” sambungnya.(*)
