MAMASA, Lintas-Enam.com — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tabulahan, hingga kini belum memberikan penjelasan terbuka terkait dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa yang terjadi di wilayah Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, pada Senin (28/9/2026), mengakibatkan setidaknya 20 siswa dari berbagai satuan pendidikan, mengalami gangguan kesehatan.
Keluhan yang muncul antara lain mual, pusing, sakit perut hingga sesak napas.
Informasi yang dihimpun, dugaan persoalan bermula ketika ditemukan makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi pada paket MBG yang dibagikan kepada siswa.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak SPPG Tabulahan mengenai penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
Termasuk mengenai proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga pemeriksaan kualitas makanan sebelum dibagikan kepada para penerima manfaat.
Sikap bungkam pihak SPPG membuat sejumlah pertanyaan publik belum terjawab.
Apakah makanan tersebut benar mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi?
Bagaimana standar pemeriksaan makanan diterapkan sebelum paket MBG didistribusikan?
Dan apakah seluruh tahapan keamanan pangan telah dijalankan sesuai ketentuan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena program MBG menyasar anak-anak sekolah yang seharusnya mendapatkan makanan aman dan layak konsumsi.
Evaluasi menyeluruh terhadap rantai penyediaan makanan juga diperlukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Sorotan lainnya menyangkut kapasitas pelayanan SPPG.
Sebelumnya, muncul informasi bahwa satu SPPG harus melayani ribuan penerima manfaat di wilayah yang memiliki kondisi geografis cukup sulit.
Jarak distribusi yang jauh serta kondisi jalan yang tidak selalu mendukung menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga kualitas makanan hingga diterima siswa.






