MAMASA, Lintas-Enam.com – Sebanyak 1.779 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, masuk dalam kategori miskin ekstrem.
Data tersebut berdasarkan data Dinas Sosial Kabupaten Mamasa yang mencatat 27 desa dengan jumlah KK miskin ekstrem cukup tinggi.
Desa Taupe, Kecamatan Mamasa menjadi wilayah dengan jumlah KK miskin ekstrem tertinggi.
Tercatat sebanyak 108 KK di desa tersebut masuk kategori miskin ekstrem.
Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan 26 desa lainnya dalam daftar.
Di posisi berikutnya terdapat Desa Salukona dengan 88 KK.
Kemudian Desa Manipi sebanyak 87 KK dan Desa Lambanan sebanyak 83 KK.
Sementara Desa Kariango dan Tawalian Timur masing-masing tercatat sebanyak 80 KK.
Adapun jumlah terendah dalam daftar tersebut berada di Desa Baruru dan Desa Rippung, masing-masing sebanyak 50 KK.
Persoalan kemiskinan ekstrem di Mamasa juga beririsan dengan sejumlah persoalan sosial lainnya. Salah satunya persoalan stunting.
Data Dinas Kesehatan mencatat prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Buntu Malangka mencapai 46,09 persen.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Kabupaten Mamasa.
Persoalan lain adalah Anak Tidak Sekolah (ATS).
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat sebelumnya menyoroti sejumlah kecamatan yang menjadi titik rawan ATS, di antaranya Tabulahan, Aralle, Mambi dan Buntu Malangka.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi pemerintah secara terpadu.
Bukan hanya melalui bantuan sosial, tetapi juga peningkatan ekonomi, pemenuhan kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi.
Aktivis Peduli Mamasa, Arman, menilai penanganan kemiskinan ekstrem harus dilakukan secara konvergen.
“Kalau tidak ditangani secara konvergen, angka kemiskinan ekstrem akan terus melahirkan masalah baru seperti stunting dan anak tidak sekolah,” kata Arman, Selasa (8/9/2026).






