Sebagai gantinya, ada tedong bonga yang khusus disiapkan untuk menjemput pelayat.
Tedong bonga itu disebut dengan rande allun, sang bintang utama dalam rambu solo Mamasa.
“Pemangku acara mengambil kerbau yang sebagai pokok acara ini,” pungkasnya.
Tedong bonga merupakan jenis kerbau yang diistimewakan karena dibanderol dengan harga paling mahal dari jenis kerbau lainnya. Harganya sampai ratusan juta rupiah.
Setelah penjemputan, kemudian dilaksanakan lah ma’badong.
Ma’badong dilakukan oleh sekelompok orang, membentuk lingkaran, sembari mengaitkan jarinya satu sama lainnya.
Mereka menyenandungkan syair yang berisi ungkapan kesedihan.
“Itu termasuk penyambutan tamu, sekaligus menyampaikan rasa duka citanya kepada almarhum/almarhumah,” tukasnya.(*)
