“Karena ini menyangkut harga diri orang para pelayat. Dua kemungkinan, dipermalukan karena tidak sesuai singgi’nya, atau dia kualat karena terlalu tinggi singgi’nya,” tambahnya.
Daripada singgi’, Maurids mengarahkan agar lebih memperbanyak bating. Bating artinya ungkapan rasa duka cita kepada almarhum.
Tak hanya itu, perbedaan lainnya terletak pada penggunaan padaling (serupa gong kecil).
Padaling pada adat Mamasa, digunakan menjemput pelayat yang diiringi seekor tedong bonga (kerbau belang). Benda itu dibunyikan sepanjang jalan, hingga tamu duduk.
Sedangkan Toraja hanya sebagai komando, untuk mempersilakan pelayat masuk.
“Toraja tidak. Ada juga padalingnya tapi satu atau dua. Untuk memberi komando saja mempersilakan orang masuk.” pungkasnya.(*)
