Aksi mengamuk yang Randan lakukan, lantaran ia bersikeras memberhentikan rapat, untuk menerima aspirasi honorer terlebih dahulu.
Tujuannya, agar tak mengganggu konsentrasi, sehingga rapat berjalan kondusif.
“Karena pada saat itu, teman-teman tenaga honorer saya lihat sudah terlalu banyak, sedangkan kami sedang rapat, nantinya hilang konsentrasi juga,” jelas Randan.
“Akhirnya saya mengusulkan untuk terima aspirasi mereka dulu. Abang saya Pak Welem Sambolangi sampaikan, biarlah kita selesaikan dulu rapat yang sedang berjalan,” sambung Randan.
Ribut-ribut itu, kata Randan, hanya seputar menyelesaikan rapat, atau menerima aspirasi honorer terlebih dahulu.
“Jadi bukan karena abangku WS tidak berpihak tenaga honorer. Setau saya, justru beliau sangat-sangat mendukung, karena kami banyak terlibat sama-sama di dalam memperjuangkan nasib mereka,” tuturnya.
Hasil pertemuan pada waktu itu, pihaknya telah menindaklanjuti dengan memberikan rekomendasi ke Pemerintah Daerah, agar dipertimbangkan dan diprioritaskan ketika ada pengangkatan.
“Tapi kan, kita mesti tunduk dengan aturan pemerintah. Eksekusi dan penentuannya, bukan di tangan kami,” terangnya.
Masih di kolom komentar, Randan berharap agar tidak mengembangkan informasi yang tidak benar.
Ia mengajak masyarakat, bahu-membahu membangun Mamasa dengan memilih pemimpin terbaik, dengan proses yang baik dan cara yang terhormat.
Melalui pesan WhatsApp, Randan membenarkan akun facebook yang beri tanggap tersebut adalah miliknya.
“Iya, saya sendiri dek. Asli akunnya,” jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/9/2024).
Seperti diketahui, dalam waktu dekat Kabupaten Mamasa bakal melangsungkan pemilihan bupati dan wakil bupati.
Ada tiga bakal calon yang akan bertarung pada Pilkada serentak 2024 itu. Masing-masing pasangan bakal calon, Robinson Paul Tarru- David Bambalayuk, Ruslan D. Pandayai-Andi Farida Fachri dan Welem Sambolangi-H. Sudirman.(*)
