“Kami memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini, semoga dengan insiden ini kami lebih berhati-hati lagi dalam penyajian makanan bergizi ke depannya,” tandasnya.
Sementara itu, Tokoh Pendidik setempat, Syamsul, menyampaikan agar persoalan ini tidak dibesar-besarkan dan cukup dijadikan pelajaran.
Menurut Syamsul, program MBG merupakan bukti kehadiran negara di pelosok desa.
Ia meminta masyarakat penerima manfaat di Desa Uhaidao memberi kesempatan SPPG untuk berbenah.
“Saya rasa persoalan ini tidak usah diperpanjang, tidak usah dibesar-besarkan karena ini juga tidak disengaja. Mana mungkin anak kita mau diberikan makanan yang tidak sehat. Ini kejadian yang tak terduga,” kata Syamsul.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya penerima manfaat di Desa Uhaidao, agar insiden ini tidak perlu diumbar.
“Tentunya pihak SPPG akan berbenah untuk yang lebih baik,” pungkasnya. (*)



