OPINI  

OPINI: Badai Pasir Illiberal Era Prabowo dan Garam Mahasiswa Diaspora yang Menolak Tawar

Fajar Asad Jawi, Mahasiswa Al-Azhar Mesir, Kader HMI Cabang Mesir

Kedua, internasionalisasi isu. Kasus Andrie Yunus kita bawa ke Amnesty dan Front Line Defenders. Deforestasi IKN dan Food Estate kita bawa ke Human Rights Watch. Kriminalisasi UU ITE kita bawa ke PBB. Papua dan deforestasi menjadi isu global karena tekanan global. Rezim illiberal takut pada dua hal: investor cabut dan malu di forum internasional.

Ketiga, menjadi tameng global. Setiap penangkapan di dalam negeri harus dibayar mahal dengan Kamisan di depan KBRI di berbagai Negara . Setiap teror harus dibalas dengan petisi global dan tagar internasional. Tujuannya menaikkan biaya politik represi.

Penutup: Garam Yang Menolak Tawar

Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran 1983 : “Mahasiswa harus bisa menjadi garam dan terang bagi bangsanya. Kalau garam sudah tawar dengan apa diasinkan? Kalau mahasiswa sudah apatis siapa yang akan melawan?”

HMI Cabang Istimewa Mesir menyerukan solidaritas Kamisan global. Sebab Ibu Pertiwi batuk darah. Pasal 28I ayat 4 dilanggar setiap hari. Badai pasir kekuasaan mengejar rakyat sampai ke desa terakhir.

Baca Juga:  OPINI: Menakar Potensi Dampak Keuntungan atau Kerugian LTJ Mamuju

Kami, mahasiswa diaspora, menolak jadi garam yang tawar. Dari jauh kami catat, kami arsipkan, kami teriakkan ke dunia. Karena kalau suara lantang kebenaran tak didengar istana, maka suara diaspora akan menggema ke istana lewat tekanan global. (*)

Editor: Samuel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *