OPINI  

OPINI: Badai Pasir Illiberal Era Prabowo dan Garam Mahasiswa Diaspora yang Menolak Tawar

Fajar Asad Jawi, Mahasiswa Al-Azhar Mesir, Kader HMI Cabang Mesir

Ketiga, teror sebagai instrumen kekuasaan. Pasal 28i ayat 4 UUD 1945 tegas : perlindungan HAM tanggung jawab negara. Maret 2025, Panitia Kerja RUU TNI rapat tertutup. Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menggerebek karena minim partisipasi publik. Kini ia diteror. Bukan hanya dia. Sejumlah pengkritik menerima kiriman bangkai ayam, bom molotov, hingga ancaman digital. KontraS, ELSAM, Amnesty International, Human Rights Watch, Front Line Defenders telah mendokumentasikan pola ini. Ketika kritik dibalas teror, demokrasi berubah rupa: ada pemilu, tapi kebebasan dikebiri. Inilah wajah demokrasi illiberal.

Badai Pasir Murakami Dan Kutukan Struktur

Haruki Murakami dalam  Kafka on the Shore : “Badai pasir mengejarmu. Kau ganti arah, ia ikut ganti arah.” Itulah nasib rakyat hari ini. Lahir miskin di desa, dikejar struktur. Lari ke kota, dikejar upah murah. Bersuara, dikejar molotov. Demokrasi rasa feodalisme ini bersiul nepotisme. Kekuasaan tak lagi melayani, tapi menghegemoni. Setiap kebijakan lahir tanpa  meaningful participation. Setiap undang-undang dibuat bukan untuk rakyat, tapi untuk legitimasi politik.

Peran Intelektual: Lalat Pengganggu Yang Tak Boleh Mati

Para intelektual tak boleh lepas dari rakyat. Mahasiswa harus jadi lalat pengganggu negara: terus bertanya, “Benarkah kebijakan ini adil? Untuk siapa undang-undang ini dibuat?” Tugas kita memastikan keberpihakan, bukan sekadar stempel.

Baca Juga:  OPINI: Menakar Potensi Dampak Keuntungan atau Kerugian LTJ Mamuju

Di sinilah diaspora menemukan relevansi historisnya. Kami tidak lebih berani. Kami hanya lebih aman. Jarak memberi perlindungan, akses memberi senjata. Maka ada tiga peran yang tak bisa ditawar:

Pertama, melawan propaganda dengan riset. Rezim illiberal memonopoli data. Tugas kita membongkarnya dengan kajian tandingan dari jaringan akademisi kampus top dunia. Bedah LHP BPK, laporan ICW, WALHI, JPPI. Biar istana tak bisa berlindung di balik “kalian tak paham data”.

Editor: Samuel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *