Bukan hanya persoalan ritual, memulai setiap tahapan pembangunan rumah adat, ada waktu-waktu tertentu yang dianggap tepat. Ini berkaitan dengan pengharapan dan doa atau bagi masyarakat Mamasa disebut pairan.
Modernisasi dan Globalisasi jadi Tantangan Merawat Budaya
Ada yang menarik dari cerita tentang rumah adat yang diulas David. Di tengah berupaya merawat dan melestarikan budaya Mamasa, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah modernisasi dan globalisasi.
Budaya Mamasa, kata David, mulai bergeser ketika modernisasi mulai masuk. Baginya, praktik budaya boleh bergeser. Tetapi, nilai dari budaya itu tak akan lekang dari waktu, seiring lapuknya rumah adat Mamasa.
“Meskipun merawat budaya praktiknya tidak seperti yang dilakukan leluhur kita, tetapi nilai yang ada dalam budaya itu tidak boleh hilang. Misalnya nilai kejujuran dan ketaatan pada Tuhan,” begitu pesan David, merawat budaya.
Nilai budaya menurut dia, mesti dibawa pada konteks iman saat ini, yang tak boleh hilang. Walau begitu, banyak hal yang bisa dilakukan agar budaya ini tetap lestari.
Bekerja sama dengan pemerintah menggagas sosialisasi yang menyasar generasi muda. Itu salah satu yang ia lakukan melestarikan budaya.
Bagi David, melestarikan budaya bukan sebuah ketertarikan. Tetapi ada tanggung jawab yang diturunkan leluhur yang harus dia jalankan.
Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, cara David, merawat budaya dengan menulis buku adalah warisan tertulis yang disiapkan bagi generasinya kelak. Sebab budaya Mamasa saat ini kian bergeser, seiring lapuknya Banua Sura’ di Desa Tondok Bakaru.
Sebagai generasi muda Mamasa, kita mesti bersyukur bahwa di era sekarang masih ada sosok David yang peduli tentang budaya Mamasa. Semoga kelak lahir David lain yang juga peduli tentang budaya Mamasa, yang kian tergerus modernisasi. (*)
