Merawat Warisan Budaya Mamasa di Tengah Gempuran Modernisasi

Rumah adat Mamasa di Desa Tondok Bakaru (Foto: Lintas-Enam.com)

Tak terbilang lama, Bang Has, Frendy dan Pak David, akhirnya ke luar. “Kita di sini saja,” ajak Pak David, sembari menaiki lantai alang.

“Dulu waktu Menteri Pariwisata datang, protokoler minta Pak Menteri duduk di tengah, katanya sesuai protokoler, tidak etis kalau duduk di pinggir. Saya bilang, memang kalau protokoler, tapi kalau dari sisi adat, tidak boleh. Jadi beliau duduk di sini,” kata David, mengenang kedatangan Sandiaga Uno, sembari menunjuk tiang alang di sebelah selatan tempat ia duduk.

Kenang David, tentang kedatangan Menteri Pariwisata era Joko Widodo, mengawali percakapan kami. Memulai percakapan, sesepuh itu bilang, supaya percakapan terarah, sebaiknya ada pertanyaan dari jurnalis yang diajukan padanya.

Baca Juga:  Demi Bertahan Hidup, Limbong Jualan Sayur Hingga Larut Malam Tak Kenal Lelah

Profil Singkat David: Dari Guru Kimia jadi Penulis Buku

Budayawan Mamasa, David Demmanaya (Foto: Lintas-Enam.com)

Profil singkat, itu yang kutanyakan mengawali wawancara. Dia mulai bercerita. Perjalanannya sebagai pegawai negeri sipil, dimulai dari guru kimia di sekolah menengah atas. Ia hijrah dari guru, lalu masuk di jabatan struktural. Jabatan yang diemban dimulai dari kepala seksi, kepala bagian hingga kepala dinas.

Ada tiga jabatan kepala dinas yang pernah dia duduki sebelum pensiun, Kepala Dinas Pendidikan, Pariwisata, dan PTSP.

Meski statusnya PNS, sedari dulu dia mencintai budaya. Karena waktu sudah cukup luang, menghabiskan masa pensiun, David, memilih kesibukan jadi seorang budayawan. Menulis buku, menjadi pemateri tentang budaya, itu kesibukannya kini.

Baca Juga:  Asap Kebakaran Hutan Mengepul, Mamasa Tak Lagi Berselimut Awan

Ada yang unik di balik kecintaanya terhadap budaya Mamasa, sebab kontras dengan latar belakang pendidikannya. Dia Lulusan IKIP Ujung Pandang (sekarang UNM) dengan Program Studi Kimia. “Tapi S2 saya Manajemen di Malang,” ujar dia.

Di usia 68 tahun yang tak lagi muda, di tengah gempuran modernisasi, David memilih merawat budaya Mamasa lewat buku yang ia tulis. Ada beberapa buku bertema budaya jadi karyanya. Satu di antaranya “Perempuan Mamasa Sejati”. Beberapa pekan lalu, buku ini dibedah.

Penulis: Semuel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *