Di urutan ketiga sesuai strata sosial, ada banua rapa’. Rumah ini tidak berwarna, ia dibiarkan dengan warna kayu alami. Rumah ini dihuni Tana’ Karurung atau masyarakat umum.
Sementara rumah dengan kasta terendah disebut banua longkarrin. Di zaman dahulu, rumah dengan tipe ini umumnya dihuni Budak atau Sabua’ yang dianalogikan sebagai Koa-Koa, sejenis tumbuhan liar yang banyak tumbuh di pinggiran sungai.
Karena masyarakat Mamasa memiliki empat jenis rumah adat, maka sudah barang tentu ada empat pengelompokan strata sosial. Strata sosial tertinggi disebut Tana’ Bulawan, lalu kedua Tana’ Bassi, ketiga Tana’ Karurung dan terakhir Tana’ Koa-Koa.
“Pengelompokan ini berdasarkan tingkat kualitas. Bulawan itu emas, bassi itu besi, karurung itu sejenis batang ijuk yang umumnya digunakan gagang cangkul. Terus ada namanya koa-koa, jenis tumbuhan yang menyerupai tanaman tebu,” urai David, sembari sesekali merapikan duduknya.
Alang (lumbung padi)

Bagi masyarakat Mamasa, selain sebagai tempat penyimpanan padi, alang juga berfungsi menjamu tamu terhormat dan menyelesaikan masalah.
Setiap rumah adat, di depannya terdapat lumbung. Lumbung disesuaikan jenis rumah adat. Jika rumahnya jenis banua sura’, maka lumbungnya juga harus menyesuaikan, yaitu alang sura’. Namun, ukirannya berbeda, ukiran pada lumbung, dominan simbol pengharapan.
“Yang wajib punya alang, yaitu banua sura’ dan banua bolong. Kalau banua rapa’, boleh ada, boleh tidak dan lumbungnya cenderung kecil. Kalau longkarrin tidak ada lumbung,” kata David merinci.
Ritual Adat (Pengharapan dan Doa)
Dari setiap rumah adat yang berdiri kokoh dengan arsitektur megah dihiasi ukiran dengan sejuta filosofi, siapa sangka ada sejumlah ritual yang harus dilakukan sebelum memulai pembangunannya.
David bilang, setiap proses pembangunan rumah mulai dari menyiapkan lahan, ada ritual yang wajib dilakukan. Pada setiap ritual, pemiliknya wajib menyembelih babi. “Mulai dari perencanaan sampai pada penyelesaian rumah, itu dilakukan ritual,” jelas David.
