Mencintai budaya bukan sebuah ketertarikan kata David. Ini bentuk tanggung jawab yang wajib ia jalankan sesuai amanah orang tuanya sebagai tokoh di wilayah adat Rambu Saratu’.
Banua Sura’ (Rumah Ukir)

Di sebelah selatan tempat kami duduk, berdiri lesu rumah dengan arsitektur unik menyerupai perahu. Ia tak lagi berdiri kokoh karena termakan usia. Ukiran dengan ragam motif dominan hitam berpadu kuning kemerahan dan putih, kini tampak samar. Rumah itu disebut Banua Sura’ (rumah ukir).
Di depan rumah di bagian serambi, ada dua tiang utama berukuran besar. Masyarakat lokal menyebutnya penulak (penopang). Penulak berfungsi menyangga struktur atap menyerupai perahu yang disebut longa.
Pada tiang utama di bagain luar serambi, ditempatkan ornamen darang-darang atau pahatan kayu berbentuk kepala kuda. Kuda melambangkan kesejahteraan.
Pada tiang utama yang ditempatkan di tengah serambi, terdapat ornamen ulu tedong (kepala kerbau). Kepala kerbau simbol kemakmuran. Sebagai pengharapan bahwa orang yang mendiaminya akan makmur.
Di dalam ruangan rumah ini terdapat empat bagian tertentu yang disekat. Ruangan pertama disebut tado’ (serambi), kedua ba’ba (ruang tamu), ketiga lombon (ruang kelurga) dan keempat tambin (kamar).
Umumnya rumah adat Mamasa memiliki pintu berukuran kecil. Ukuran ini mengandung filosofi bahwa setiap tamu yang masuk, harus menunduk. Menunduk berarti hormat.
Jenis Rumah Adat Mamasa

Rumah adat Mamasa dibedakan dari empat jenis berdasarkan pengelompokan strata sosial. Banua layuk dan banua sura’ ditempatkan pada kasta tertinggi.
Banua layuk dan banua sura’ dibedakan dari ukurannya. Banua layuk umumnya, terstruktur cenderung lebih tinggi, sedangkan banua sura’ kebalikannya. Jenis rumah ini hanya dapat dihuni masyarakat dengan strata sosial Tana’ Bulawan atau keturunan bangsawan.
Di urutan kedua berdasarkan stratanya, ada tipe banua bolong. Modelnya sama, yang membedakan, sesuai namanya. Rumah ini dicat hitam tanpa ukiran, dan hanya dapat dihuni Tana’ Bassi atau prajurit.
