Desa Indo Banua, yang berjarak 2 Kilometer dari Pamoseang, menikmati energi lampu non-PLN. Terdapat 115 rumah terang seadanya di malam hari.
Melihat data statistik 2022 yang dipublikasikan secara resmi oleh BPS Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) pada 2023, Desa Pamoseang dan Desa Indo Banua adalah dua dari 13 desa/kelurahan di Kecamatan Mambi tanpa listrik.
Mencermati data ini, Pemkab Mamasa gagal memfasilitasi layanan publik mendasar bagi masyarakat di desa itu.
Beruntung ada seorang pemuda bernama Shaleh Pamoseang. Pemuda ini berasal dari desa itu. Sejak menikah dan telah punya momongan dua putra-putri yang masih kecil, ia menetap di Kecamatan Ulu Manda’, Kabupaten Majene.
Pemuda kelahiran 30 tahun itu mengaku tak sulit menjangkau Pamoseang dan Indo Banua. Desa ini berjarak 10 Kilometer dengan Desa Popenga, Kecamatan Ulu Manda’, Majene.
Shaleh punya kebun kopi dan sawah gunung yang ditanami Bara’bak (padi gogoh). Nyaris saban sekali sebulan– kadang pula setiap dua pekan sekali –ia ngegas motor ke Pamoseang. Anatomi dan geliat kehidupan masyarakat Pamoseang cukup detail baginya.
M. Sabir juga bilang, masyarakat desa lebih banyak menggantungkan hasil makanan pokok beras dari sawah gunung, Bara’bak.
Saat ini tanaman padi di gunung-gunung Pamoseang dan Indo Banua tengah menghijau dengan umur tanam mulai matang.
“Padi Bara’bak belum panen dinda,” kata Kades M. Sabir, Selasa kemarin.
Pada pekan pertama Januari ini, Shaleh Pamoseang menghentak publik dengan tulisan pendeknya yang ia siarkan di website miliknya.
Gugatan masyarakat Pamoseang dan Indo Banua diakselerasi dan dipermak sedemikian rupa oleh Shaleh. Berita itu meluas, menjangkau Jakarta, termasuk Dirut PLN Darmawan Prasodjo.
Lalu, menurut Shaleh, punggawa kelistrikan negara itu instruksikan kepada jajarannya di Sulawesi Barat agar listrik di dua desa yang disebut dalam tulisan Shaleh segera menyala, paling lambat awal Maret 2025. Ini pengakuan Shaleh.





