MAMASA, Lintas-Enam.com — Di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan (karhutla), Pemerintah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, justru menginstruksikan kerja bakti setiap Jumat dengan melibatkan anak-anak sekolah.
Kebijakan ini menuai sorotan. Saat kualitas udara menjadi perhatian, pemerintah daerah dinilai semestinya memprioritaskan kesehatan dan keselamatan siswa sebelum mengerahkan mereka beraktivitas di luar ruangan.
Instruksi yang beredar melalui pesan WhatsApp meminta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), ASN, camat, lurah, kepala desa, hingga seluruh staf dan masyarakat menggelar gotong royong peduli lingkungan setiap Jumat pagi.
Pesan itu juga secara eksplisit meminta pelibatan anak-anak sekolah.
Koordinator Poros Rakyat Mamasa, Taufik Rama Wijaya, mempertanyakan pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan instruksi di tengah kondisi kabut asap.
Menurutnya, gotong royong merupakan tradisi positif. Namun, pelaksanaannya harus mempertimbangkan situasi lingkungan dan risiko kesehatan masyarakat.
“Di tengah kondisi Mamasa yang sedang dikepung kabut asap, pemerintah seharusnya memastikan keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi prioritas. Jangan sampai siswa justru diarahkan melakukan kegiatan di luar sekolah ketika kondisi udara perlu mendapat perhatian serius,” tegas Rama, Jumat (22/10/2026).
Ia mempertanyakan apakah Pemkab Mamasa telah mempertimbangkan risiko paparan asap terhadap siswa SD, SMP, hingga SMA.
Padahal, menurut Rama, paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan dari paparan polusi udara.
Karena itu, kegiatan luar ruangan semestinya mempertimbangkan kondisi kualitas udara, bukan sekadar menjalankan instruksi secara seragam.
Rama menilai, pemerintah tidak boleh mengabaikan keselamatan siswa hanya demi menjalankan agenda kerja bakti.