Merawat Warisan Budaya Mamasa di Tengah Gempuran Modernisasi

Rumah adat Mamasa di Desa Tondok Bakaru (Foto: Lintas-Enam.com)

MAMASA, Lintas-Enam.com – “Ini namanya alang, di atasnya tempat penyimpanan padi, di sini tempat menerima tamu. Tamu terhormat wajib diterima di sini,” tutur David, sembari mengajak kami duduk di lumbung berlantai papan tak beralas.

Kurang dari 30 menit yang lalu, kami menyelesaikan materi terakhir di hari kedua kegiatan workshop, diselenggarakan media Parboaboa menggandeng AJI Kota Mandar. Objek Wisata Citol Hills, lokasi kegiatannya.

Matahari di Ufuk Barat kian menjauh dari pandangan. Hari hampir petang, suasana di Desa Wisata Tondok Bakaru mulai sepi, meski deru mesin motor masih terdengar lalu lalang, Selasa (13/10/2026).

Materi yang baru saja kami terima ternyata belum sepenuhnya selesai, ada tugas dari mentor yang mesti diselesaikan. “Kita latihan menulis features. Narasumbernya budayawan,” ucap Bang Has, Mentor kami, mengakhiri materi.

Baca Juga:  Asap Kebakaran Hutan Mengepul, Mamasa Tak Lagi Berselimut Awan

Masing-masing peserta mengemasi barang dan peralatan. Jam menunjuk pukul 16:03 Wita, semua sedia, kami bergegas ke tempat narasumber di perkampungan Desa Tondok Bakaru. Jaraknya terbilang dekat, kurang dari 2 Km.

Kunaiki motor matic milikku, pink berpadu ungu. Starter di sebelah kanan setang setir kutekan, mesin menderu. Belum sempat tancap gas, rekanku Welson menghampiri, “Sibonceng ki.” pintanya dengan dialek Mamasa yang artinya kita berboncengan.

Jalan berbatu, berkelok dan menurun berganti tanjakan kami lewati. Saking dekatnya, jok motor belum sempat panas kududuki, kami pun tiba. rumah adat Mamasa yang dituju. Saat itu pukul 16.19 Wita. Motor kuparkir di dekat bangunan yang tak asing bagi masyarakat Kabupaten Mamasa, alang namanya.

Baca Juga:  Demi Bertahan Hidup, Limbong Jualan Sayur Hingga Larut Malam Tak Kenal Lelah

Tak ada komando, kutarik handphone di saku celana. Kupotret rumah dengan arsitektur unik menghadap ke sebelah utara, di depannya ada dua lumbung. Satu lumbung ada ukirannya, yang lain tidak.

Di samping kanan rumah itu, tampak satu rumah dengan arsitektur modern. Di dalamnya, Budayawan Mamasa menunggu, David Demmanaya namanya. Bermaksud izin, Bang Has dan Frendy, Ketua AJI Mandar menemuinya.

Penulis: Semuel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *