Menurut Magdalena, selama berada di dalam kerangkeng, anaknya tidak pernah memberontak ataupun berteriak. Ia lebih banyak berbicara sendiri.
“Di dalam kurungan tidak pernah memberontak atau berteriak, hanya bicara sendiri,” katanya.
Di tengah keterbatasan, Magdalena dan suaminya tetap berusaha memenuhi kebutuhan anaknya.
Makanan diberikan seperti biasa dan menurut keluarga, anaknya masih makan dengan normal serta tidak memiliki keluhan penyakit fisik lainnya yang diketahui keluarga.
Namun, keinginan keluarga untuk membawa Satria mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan terbentur persoalan biaya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, keluarga harus bekerja keras dengan penghasilan yang pas-pasan.
Biaya pengobatan dan pendampingan menjadi sesuatu yang sulit mereka jangkau.
“Uluran tangan dari pemerintah, kiranya bisa membantu kami dalam biaya pengobatan,” harap Magdalena.
Kini, di balik dinding kurungan berukuran sekitar 2×2 meter itu, ada seorang anak yang masih menjadi bagian dari sebuah keluarga yang berharap mendapatkan bantuan.
Keluarga Satria berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat datang melihat langsung kondisi mereka, memberikan pendampingan, serta membantu agar Satria bisa memperoleh pemeriksaan dan layanan kesehatan yang sesuai.
Bagi keluarga, bantuan tersebut bukan sekadar persoalan biaya pengobatan. Lebih dari itu, mereka berharap Satria dapat memperoleh kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang layak dan manusiawi. (*)

