MAMASA, Lintas-Enam.com — Kasus dugaan gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa di Kecamatan Tabulahan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka sejumlah persoalan yang sebelumnya disebut telah dikeluhkan penerima maupun pihak sekolah.
Bukan hanya soal puluhan siswa yang harus mendapatkan penanganan medis. Kesaksian sejumlah siswa dan guru juga mengungkap adanya dugaan persoalan kualitas makanan yang disebut telah terjadi sebelum kasus itu muncul.
Seorang siswa yang menjadi penerima MBG mengaku kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi bukan pertama kali ditemukan.
“Sudah beberapa kali, Pak. Ada yang makanannya berbau, tempenya sudah hitam, ada juga ayamnya masih setengah masak, masih ada darahnya,” ungkap siswa tersebut.
Kesaksian itu menjadi perhatian karena menunjukkan adanya dugaan keluhan berulang terkait kualitas makanan.
Namun, sejauh mana keluhan tersebut ditindaklanjuti sebelum munculnya kasus gangguan kesehatan siswa, masih perlu dijelaskan oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun pihak terkait.
Guru Mengaku Pernah Melaporkan Makanan Basi
Keluhan mengenai kualitas makanan juga disampaikan seorang guru.
Ia mengaku pernah menghubungi pihak SPPG setelah menemukan makanan yang diterima sekolah dalam kondisi yang menurutnya tidak layak diberikan kepada siswa.
“Saya pernah telepon ke SPPG melaporkan bahwa makanan yang diantar ke sekolah kami sudah basi dan tidak layak dikonsumsi. Karena itu, kami tidak berikan kepada siswa demi menghindari risiko keracunan,” ujar salah seorang guru.
Keterangan itu menambah pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan kualitas makanan, mulai dari proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi ke sekolah.
Apabila laporan itu benar telah disampaikan sebelumnya, penting untuk diketahui bagaimana tindak lanjut pengelola dan apakah terdapat langkah koreksi untuk mencegah kejadian serupa.






