Diskusi dengan Sanguyun Ta’bu, Mahasiswa Asal Belanda Ini Curhat soal Pariwisata di Mamasa

Gambar: Mahasiswa Asal Belanda, Johannes Lagerweij, diskusi bersama Komunitas Sanguyun Ta'bu Sangkombong Sarre (STSS)

Diskusi dengan Sanguyun Ta’bu, Mahasiswa Asal Belanda Ini Curhat soal Pariwisata di Mamasa

Lintas-Enam.com, Mamasa – Komunitas Sanguyun Ta’bu Sangkombong Sarre (STSS) menerima seorang tamu asing asal Belanda, di Sekretariat STSS, di Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (14/3/2025).

Adalah Johannes Lagerweij, mahasiswa magister jurusan Antropologi Budaya Universitas Utrecht di Belanda.

Dia meneliti soal bagaimana modernisasi, globalisasi, dan perkembangan teknologi memengaruhi praktik budaya masyarakat adat Mamasa.

Salah satu pengurus STSS bidang pariwisata yang hadir, Petrus mencoba menarik perspektifnya soal pariwisata di Mamasa.

Bule usia 23 tahun itu, menimpali dengan sederet pengalaman yang ia rasakan selama kurang lebih 3 minggu di Mamasa.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar turis asing betah.

Hal pertama adalah infrastruktur jalan. Ia mengaku kesulitan ketika berpergian ke beberapa tempat.

Sementara kata dia, turis tertarik untuk mengeksplor banyak destinasi.

“Saya pikir orang-orang sangat tertarik berjalan-jalan di pegunungan dan mengunjungi desa, air terjun, dan ini dan itu,” katanya, saat diskusi Diskusi dengan Sanguyun Ta’bu.

Selain kondisi jalan, hal yang menurutnya perlu diperhatikan adalah ketersedian pilihan makanan yang cocok dengan lidah orang-orang Eropa pada umumnya.

Ia juga menyinggung mengenai fasilitas kamar mandi, seperti bentuk jamban jongkok yang tidak familiar baginya, dan ketersediaan tisu.

Sebab di negara asalnya, ia menggunakan jamban duduk dan cebok menggunakan tisu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *