MAMUJU, Lintas-Enam.com — Di sudut kampung di Desa Keang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, sebuah kurungan sederhana berukuran sekitar 2×2 meter menjadi tempat tinggal seorang pria bernama Satria (28).
Bukan karena ia melakukan kejahatan. Satria mengalami gangguan kesehatan jiwa. Selama sekitar empat tahun harus menjalani hari-harinya di dalam kerangkeng terbuat dari bambu.
Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu alasan orang tua Satria mengambil keputusan tersebut.
Keluarga mengaku tidak memiliki kemampuan untuk membiayai pengobatan, sekaligus mengawasi Satria setiap saat.

Di tempat sederhana itu, Satria dirawat oleh kedua orang tuanya. Kondisinya jauh dari layak untuk disebut sebagai tempat tinggal.
Namun bagi keluarga, kurungan tersebut dianggap sebagai cara untuk menjaga S agar tidak kembali pergi tanpa diketahui.
Kisah itu bermula ketika Satria pergi ke kebun untuk menyadap tuak. Tetapi, hari itu ia tidak kunjung kembali ke rumah.
Keluarga kemudian mencarinya selama enam hari.
Pencarian akhirnya membuahkan hasil setelah Satria ditemukan di kebun milik salah seorang warga di Desa Banuada’, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju.
Sejak kejadian tersebut, keluarga semakin khawatir Satria kembali meninggalkan rumah dan tersesat.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat keluarga memilih merawatnya sendiri di rumah.
“Sejak awal itulah Satria dikurung karena keluarga khawatir, Satria tidak membahayakan orang lain atau dirinya sendiri,” ujar Magdalena (64), ibu Satria, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (8/8/2026).
Magdalena menduga kondisi yang dialami anaknya kemungkinan bermula setelah Satria mengalami suatu kejadian yang membuatnya sangat terkejut.
Namun, keluarga belum mendapatkan pemeriksaan medis yang dapat memastikan penyebab maupun kondisi kesehatan Satria.

