Lintas-Enam.com, MAMASA – Jika melintas di poros Mamuju-Mamasa, tepatnya di Desa Malatiro, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, kamu akan disuguhi pemandangan tak biasa.
Di desa nan kecil itu, kita bakal disajikan pemandangan alam yang indah melewati tanjakan, lekak-lekuk dan jalan berkelok.
Saat menanjak meninggalkan perkampungan Salubulung, kita akan dimanjakan dengan pemandangan deretan bukti dan hamparan sawah yang hijau.
Namun, ada hal yang tak kalah menarik dari pemandangan alam itu, adalah deretan warung yang tersusun rapi di tepi jalan.
Warung yang terbuat dari bahan seadanya terlihat kumuh itu, menyimpan sejuta makna betapa pentingnya bersikap jujur.
Bagaimana tidak, warung yang menjajakan hasil pertanian warga sekitar, dibiarkan kosong tanpa seorang pun yang menjaganya.
Pemandangan ini sudah ada, jauh sebelum Mamasa mejadi sebuah daerah otonomi.
Namun, beberapa tahun terakhir barulah terlihat makin ramai.
Di setiap lapak, warga yang dominan penghayat kepercayaan atau yang lebih dikenal mappurondo, menaruh buah dan sayuran dari hasil pertanian.
Di setiap dagangan tertera harga, misalnya nanas, pisang dan juga keladi.
Bagi pembeli yang ingin membeli julan itu, tinggal menaruh uang di wada yang disediakan berupa toples dan juga kresek.
Uniknya, tak ada satu pun barang atau uang yang hilang meski tak ada yang menjaganya.
“Unik yah, ini mengajarkan kita betapa pentingnya bersikap jujur,” ujar Nia salah seorang pembeli, ditemui di lokasi, Kamis (23/7/2026). (*)
