“Bisa dibilang pergerakan bawah tanah. Kami sosialisasi langsung ke akar rumput pake media kartu nama ke rumah-rumah, pasar, sampai sawah, pokoknya di mana saja,” tukasnya.

Puluhan ribu kartu nama yang berisi rekam jejak Welem itu, kata Rosa, telah habis terbagi. Belum termasuk baliho dan banner.
Berkat kegigihan, akhirnya mereka mendongkrak survey Welem hingga meraih elektabilitas tertinggi menurut Pusdeham.
“Banyak yang tidak menyangka Welem figur dari luar Mamasa dapat menempati elektabilitas nomor 1,” katanya.
Rosalina membeberkan pergerakan mereka menggunakan dana mandiri, tanpa sponsor dari Welem sekalipun. Hal itu sekaligus memvalidasi tag line hati nurani yang mereka bawa.
“Kami prinsipnya berjuang dulu, dana cuma patung-patungan. Pak Welem bilang ke kami, saya tidak akan maju kalau bukan rakyat yang minta. Sehingga kami berjuang supaya surveynya Pak Welem bisa tinggi, sehingga beliau yakin,” pungkasnya.
Ia menceritakan, awalnya STSS terbentuk pada 16 Februari 2024 oleh 17 orang atas dorongan senasib dan sepenanggungan.
Sejak itu, mereka mulai membangun komunikasi dengan Welem, meyakinkan dirinya untuk maju.
“Kami semua awalnya tim pemenangan Agus Butar-Butar dan calon wakilnya saat itu Pak mantan Kadis Dukcapil, Semuel Bonggalangi. Namun kami menarik diri karena visi yang sudah tidak sejalan. Supaya tidak bubar, bersama Pak Semuel kami membentuk STSS,” tuturnya.
Ora et labora, prinsip itu pun mereka tanamkan. Tak hanya berkampanye, mereka juga mengandalkan jalur langit, dengan mengadakan ibadah rutin setiap minggunya.
“Ini sebagai momentum sejarah bahwa masyarakat Mamasa, walau tak semuanya, perlahan, mulai sembuh dari politik uang,” ujarnya.
Perjuangan panjang itu tak sia-sia, pasangan WS-Hadir rencananya akan dilantik secara serentak pada 6 Februari mendatang. (*)
