MAMASA, Lintas-Enam.com – Langit di Kota Mamasa tak lagi biru. Alam yang dulunya hijau, kini tampak hitam pekat. Siang itu, Sabtu (10/10/2026).
Pegunungan nan asri yang dulu bak lukisan mengelilingi kota mungil itu, kini hanya ada asap kebakaran hutan.
Di mana-mana, sejauh mata memandang hanya ada kepulan asap.
Matahari pun seolah enggan bersinar. Ia hanya tampak mengintip dari balik selimut asap. Sinarnya kekuningan.
Kemarau panjang dan ulah tangan tak berprikemanusiaan seolah merenggut keindahan itu.
Hampir setiap saat sirine pemadam kebakaran berbunyi seperti alarm kematian.
Pemandangan itu tak luput dari tempat saya dan rekanku Wahyuandi, di salah satu kedai di Tengah Kota Mamasa, sedang santai menikmati segelas kopi.

Di sebelah utara kota yang seharusnya tampak indah Gunung Mambulilling dihiasi awan, kini dibalut asap hitam.
Mamasa kini tak lagi tepat disematkan “Negeri Berselimut Awan”.
Segelas kopi di atas meja belum sempat ku teguk, Welson, seorang rekan seprofesi datang tergesa-gesa.
“Ada kebakaran hutan di Tatale, banyak asap di sekitar Kecamatan Tawalian,” ujar Welson, usai menghela napas panjang sembari merapikan kursi.
Welson bilang, saat menuju ke tempat kami nongkrong, ia baru saja berpapasan sebuah armada pemadam kebakaran.
Pemandangan asap ini tak hanya buat Mamasa kehilangan keindahannya. Ia juga mengancam kesehatan.
“Perih mata ta’, kayak sesak ki di luar,” ujar Desti.
Tak terkonfirmasi berapa titik kebakaran saat ini.
Namum yang pasti, terjadi kebakaran di kawasan objek wisata Tokesan Ulu di Desa Tawalian Timur, Kecamatan Tawalian.
“Hari ini ada beberapa titik, sekitar Tokesan Ulu Tatale desa Tawalian Timur, dan sekitar Desa Rantepuang, Kecamatan Sesenapadang,” ungkap Kepala Pelaksanaan BPBD Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Alfredi Toding.
Masih Alfredi, saat ini tim gabungan masih berada di lokasi kebakaran berupaya memadamkan api. (*)
